Skip to content

Proses Hukum Sang Amirul mu’minin

April 24, 2013

Suatu Ketika Amirul mu’minin, Umar bin Al-Khaththab membeli seekor kuda dari seorang laki-laki Badui, dan membayar kontan harganya, kemudian menaiki kudanya dan pergi.

Akan tetapi belum jauh mengendarai kuda, beliau menemukan luka pada kuda itu yang membuatnya terganggu ketika berpacu, maka beliau segera kembali ke tempat dimana beliau berangkat, lalu berkata kepada orang Badui tersebut,“Ambillah kudamu, karena ia terluka.”

Maka orang itu menjawab, “Aku tidak akan mengambilnya -wahai Amirul mu’minin- karena aku telah menjualnya kepada anda dalam keadaan sehat tanpa cacat sedikitpun.”Lalu Umar berkata, “Tunjuklah seorang hakim yang akan memutus antaramu dan aku.”Lalu orang itu berkata, “Yang akan menghakimi di antara kita adalah Syuraih bin al-Harits al-Kindi.”Lalu Umar berkata, “Baiklah, aku setuju.”

Amirul mu’minin Umar bin al-Khathab dan pemilik kuda pun menyerahkan perkaranya kepada Syuraih. Ketika Syuraih mendengar perkataan orang Badui, dia menengok ke arah Umar bin al-Khaththab dan berkata,“Apakah engkau menerima kuda dalam keadaan tanpa cacat, wahai Amirul mu’minin?.”“Ya.” Jawab ‘Umar Syuraih berkata, “Simpanlah apa yang anda beli- wahai Amirul mu’minin- atau embalikanlah sebagaimana anda menerima.”

Maka Umar melihat kepada Syuraih dengan pandangan kagum dan berkata, “Beginilah seharusnya putusan itu; ucapan yang pasti dan keputusan yang adil. Pergilah anda ke Kufah, aku telah mengangkatmu sebagai hakim (Qadli) di sana.”

Kalau perhatikan dengan seksama cerita tersebut sungguh mengandung nilai-nilai keadilan yang begitu menakjubkan, Umar bin Al-Khaththab adalah seorang penguasa pada masa itu tentunya beliau bisa melakukan apapun dengan kekuasannya tersebut tapi apakah beliau memakai kekuasaannya tersebut untuk mengguntungkan dirinya sendiri ? beliau bisa saja memerintahkan untuk memenjarakan hakim, atau menuduh para pegawai-pegawainya membuat gejolak stabilitas negara. Beliau justru menunjuknya sebagai hakim di Kufah sebagai imbalan untuknya.

Selain dapat kita ambil pelajaran juga apabila kita ditunjuk sebagai hakim dalam suatu permasalahan hendaknya kita melakukannya dengan seadil-adilnya tanpa melihat siapa orang tersebut baik itu orang yang sangat berpengaruh didaerah itukah atau seorang pemimpin sekaligus

Sumber Kisah  : ahlulhadist

From → Uncategorized

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: